i'm simple and very happy

Sabtu, 29 November 2014

Manusia adalah Makhluk Lupa

Selain sifat unsun yang berarti jinak, dan nausun yang berarti terus bergerak, dalam kata insan juga terkandung sifat nisyan yang bermakna lupa. Maka dalam kehambaanya kepada Allah, manusia sangat perlu diingatkan. Pengingat-pengingat itu diatur sedemikian rupa oleh Tuhan sedemikian sempurna dan ciamiknya.

Ada yang ditegur dengan bisnis yang hancur, ada yang disapa dengan duka lara, ada yang disentuh dengan keluarga runtuh, ada yang dipecat karena Tuhan berkehendak supaya manusia makin mendekat, dan tuhan menginginkan manusia berlutut dengan ujian maut.

Maka bagi setiap makhluk dalam setiap jejak lapis-lapis keberkahan hidupnya, amatlah indah apa yang pernah diucapkan Ibnu Rajab Al-Hambali: "jika tak mampu berlomba dengan orang-orang salih dalam ibadahnya, saingilah para pendosa dalam istighfarnya"

#LapisLapisKeberkahan
#SalimFillah

Kamis, 06 November 2014

Imu duniawi Vs. Ilmu Agamawi


Salah satu kemunduran ilmu pengetahuaan pada abad IV hijriyah menurut telaah Al Ghazali adalah karena adanya benturan ilmu pengetahuan. Para ahli ilmu duniawi saling ejek dengan para ahli ilmu agamawi, di antaranya sebutan "budak duniawi" bagi yg tidak mendalami ilmu fiqh atau syariat. Dan sebutan "munafik" bagi yg tidak mendalami ilmu pengetahuan umum, karena dianggap menjual ilmu agama untuk kekuasaan, misalnya menjadi hakim syariat pemerintahan. 

Pandangan cerdas dikemukakan Al Ghazali. Beliau mengambil contoh ahli fiqh harus menghargai ilmu lain. Sebab urusan ibadah pun tak bisa lepas dari ilmu lain di luar ilmu fiqh. Bagi orang berpenyakit pencernaan, misalnya, dokterlah yang akan menjadi mufti apakah orang ini boleh atau tidak melaksanakan ibadah puasa. Demikian juga saat mengambil pandangan soal pakaian, di sini perlu wawasan fiqh apakah pakaian tersebuat layak bagi seorang muslim dalam menutupi aurat dan sah tidaknyanya beribadah

Menjadi Rabbani adalah mengalimkan diri, mendalami banyak hal. Atau setidaknya saat mempelajari hal yang khusus tetap menaruh perhatian dengan wawasan umum yang luas dari berbagai ilmu. Terobosan besar tidaklah muncul dari satu ilmu, tetapi merupakan titik temu dari berbagai macam pandangan ilmu.
Manusia Rabbani hendaknya juga berjuang mendalam sebagai seorang faqih, sebab ada tuntutan nyata untuk menghubungkan segala fenomena alam dan kejadian sehari-hari dengan kekuasaan Tuhan.

Source: Lapi-Lapis Keberkahan, Salim A. Fillah

Minggu, 05 Oktober 2014

Qurbankan Hatimu

Cerita ini adalah true story dari orang dekat saya. Monggo disruput....

Seorang ibu berniat menjual cincin yang baru dibelinya beberapa bulan lalu, katanya untuk beli kambing supaya bisa ikut qurban Idul Adha. Dia mengutarakan niatnya pada anaknya, lantas si anak berfikir kalau dijual di toko emas pasti rugi nanti, "biar aku aja yang beli", ujar anaknya dalam hati. 

Singkat cerita, dibelilah cincin itu oleh anaknya dengan uang hasil menjual cincin mahar si anak ditambah uang hasil jualan baju.

Idul Adha tiba, sang ibu akhirnya bisa membeli kambing dengan uang cincin yang yang telah dibeli anaknya, ditambah sedikit uang tabungan yang ada. Dan di tempat lain, si anak juga bisa membeli kambing untuk qurban dengan menggadaikan cincin yang telah dibeli dari sang ibu ditambah juga sedikit uang simpananya. 

Luar biasa, satu cincin untuk dua kambing qurban! Subhanallah, Allah maha mengatur perputaran nasib dan rizqi manusia. Saya mengambil hikmah bagaimana sebenarnya hakikat berqurban. Kalau dari pendapat ulama Indonesia yang pernah saya baca, di antaranya oleh Ustd. Mudzofar Al Jufri dan Ustdz. Ahmad Sarwat, ibadah qurban itu nilai hikmahnya adalah menyembelih hewan qurban itu sendiri,titik!. 

Nah hewan qurban tentunya tidak murah harganya, saat ini harga 1,5 juta adalah yang paling murah untuk seekor kambing. Sehingga bagi saya benang merahnya, berqurban adalah bagaimana kita memanage keikhlasan. Nilainya bagaimana kita mengurbankan sesuatu saat rezeqi kita lapang, atau bahkan saat dompet serasa sempiiit sekali hehe. Seorang teman bilang, saat sebelum Idul Adha rizqinya sedang lapang bahkan sampe bingung tabunganya buat apa (busyeet). Nah begitu hari raya Idul Adha datang entah bagaimana tabunganya jadi mepet. Nah disinilah perlu pengorbanan untuk menjadi ikhlas. Bersedekah saat duit banyak, rizqi lapang itu biasa. Bersedekah saat tabungan mepet itu baru luar biasa. Tapi ingat, asal ikhlas dan tidak riya`

Selamat menata hati kawan...

Minggu, 28 September 2014

Nganggur itu Pilihan

Pada awal-awal ketika asisten rumah tangga kami memutuskan untuk pensiun dini (hehe..) merupakan hal berat yang harus kami terima. Kami membayangkan bagaimana beratnya mengatur tumah tangga tanpa bantuan asisten a.k.a pembantu. Rumah berantakan karena mainan anak-anak, ngemong, nyuci,  masak (bukan aku tapi istri he..), bersih-bersih dan....seabrek pekerjaan rumah tangga yang lain.

Yah hal ini karena pekerjaanku yang terpaksa harus ninggal keluarga selama 2 minggu, selain itu juga anak pertamaku yang hyperaktif dimana memerlukan perhatian dan tenaga ekstra.

Tapi ternyata hal itu hanya berat di awal-awal saja, ya karena selama ini kami terlena dengan buaian adanya pembantu. Namun setelah kami bertekad dan berkomitmen ternyata memang berat hahaha. Tidak bisa dipungkiri memang berat mengurus rumah tangga. Namun yang menguatkan kami adalah kepuasan bisa mengelola segala pekerjaan rumah tangga dengan tangan kami sendiri. Satu hal lagi yang bisa menjadi hiburan kami adalah sugesti. Ya sugesti “seni”. Maksudnya bagaimana? Maksudnya, kalau rumah berantakan karena anak-anak bermain jadikanlah itu nilai seni di dalam rumah, seni abstrak wahahaha. Yang penting anak-anak senang, ceria, dan kerasan di rumah.

Benar saja, anak-anak lebih kerasan di rumah, maen di luar gak pernah lama, pulang lagi maen di rumah. Dan anak-anak tetangga ternyata juga pada maen ke rumah, jadilah seperti taman bermain hehe...

Nah dari sini aku mengambil hikamh, saat aku off duty libur 2 minggu di rumah mengerjakan segala hal, mulai nyuci, bersih-bersih, memperbaikai bagian-bagin rumah yang rusak, menata rumah, mendekor ulang, mencari trik efektif (life hack) menata barang-barang membuatku jadi sangat sibuk. Hidup jadi lebih bermutu dan bermanfaat. Jadinya kalau ada orang yang menganggur, bagiku dia sendiri yang memutuskan jalan hidup tanpa mengerjakan apa-apa. Karena sebenarna kesibukan dan aktifitas yang bisa kita kerjakan itu saking banyaknya bahkan melebihi waktu 24 jam rotasi hidup kita perhari. Kalau tidak percaya silahkan coba sendiri hehe...Coba cari apa saja yang bisa dikerjakan niscaya tidak akan terasa kalau waktu akan berputar begitu cepat.


Selain itu, dengan mengerjakan sendiri pekerjaan rumah bisa melatih anak sadar kebersihan, kedisipilinan, dan tanggung jawab. Dan yang paling penting, kita mempunyai quality time yang optimal bersama anak-anak. Setelah mereka bermain, kita minta mereka untuk belajar merapikan mainanya denga bantuan kita. Nah dari sinilah kedekatan akan terbentuk.


Selamat menyibukkan diri dengan kesibukan yang positif dan bermanfaat, dan...lihat apa yang akan terjadi!